Posted on : 20 Juni 2019 | keategori : CEREMONIAL | dibaca 543 kali

Mitoni adalah istilah dalam bahasa Jawa yang memiliki arti upacara atau ritual yang dilakukan pada saat usia tujuh bulan kehamilan seorang ibu. di Jawa sendiri memang terkenal dengan berbagai macam budaya dan identik dengan istilah "selametan" yaitu sebagai bentuk terimakasih dan meminta ridha dari sang maha pencipta yaitu Allah SWT. salah satu ritual yang masih berjalan dan sering kita jumpai yaitu ritual mitoni, memperingati usia 7 bulan sang jabang bayi dari anak pertama yang bertujuan untuk mendoakan agar menjadi anak yang sehat dan dimudahkan dalam proses persalinan jika waktunya sudah tiba sehingga bayi dan ibu dapat selamat. Orang Jawa percaya bahwa bayi berusia tujuh bulan telah memiliki jiwa, yang keamanannya harus dirayakan. Dan anak pertama dikatakan membawa keberuntungan bagi keluarga dan saudara kandung lainnya. Seperti upacara adat lainnya, mitoni dipraktekkan dalam mode yang berbeda dalam berbagai wilayah. beberapa ritual mitoni dalam adat jawa akan kita rangkung menjadi beberapa tahap sebagai berikut:

KENDURI

Hampir semua acara selametan ditandai dengan kenduri pertemuan ritual dengan makan dan sholat dan dihadiri oleh tetangga. Pemimpin duduk bersila di atas alu kayu (yang biasa memanen padi): ini menunjukkan bahwa seseorang ingin mengusir kejahatan dan bentuk kesengsaraan lainnya. Para wanita berada di samping. Persembahan yang disiapkan pada kesempatan ini adalah: kudapan tradisional, beberapa bubur merah dan putih (sebagai tanda kekuatan fisik) dan dua buah kelapa kuning dengan gambar wayang. Kedua tokoh ini adalah pasangan yang terkenal Arjuna dan Sumbadra.

SUNGKEMAN

Ritual sungkeman sudah sering kita temui diacara pernikahan adat jawa, namun ternyata ritual tersebut juga dipakai dalam acara mitoni, dimana ibu hamil menyambut orangtuanya dengan hormat. Dia memberi Sungkeman atau ngabekti kepada orang tuanya. sungkeman adalah bukti bakti seorang anak kepada kedua orangtua untuk meminta maaf atas segala kesalahan dan meminta ridho dan mendoakan agar calon ibu dan anak diberikan kemudahan oleh Allah.

SIRAMAN

Siraman yang berarti mandi dan juga dilakukan saat upacara sebelum pernikahan, siraman dalam upacara mitoni ini memiliki arti ibu dan anak membersihkan atau mensucikan diri. dalam ritual ini ibu hamil tidak menggunakan perhiasan sama sekali, Dengan balutan kain batik, sang ibu akan duduk dan disiram dengan air siraman yang telah ditaburi kembang setaman. Dipandu oleh seorang sesepuh atau orang yang bertugas memimpin jalannya prosesi ini, tujuh orang terpilih akan menyiram sang ibu menggunakan gayung dari batok kelapa. Prosesi siraman dimulai dari orang yang paling tua di keluarga, kemudian dilanjutkan dengan yang lainnya.

BROJOLAN ATAU ANGREM

Brojolan yaitu Dua buah kelapa kuning gading muda telah dipotong dengan gambar-gambar dari Tuhan Kamajaya dan Dewi Ratih: pasangan itu akan memiliki hubungan yang jujur dan setia. Bayi, anak laki-laki atau perempuan, akan lahir dengan cerdik seperti Kamajaya atau secantik Ratih.

Angrem yaitu berasal dari kata Jawa dan mengacu pada telur yang menetas. Pasangan itu duduk di atas tumpukan kain batik seolah-olah sedang mengangrem pada telur. Bersama-sama mereka memastikan bahwa bayi lahir dengan selamat dan pada saat yang tepat.

JUALAN DAWET DAN RUJAK
Menghidangkan makanan kesukaan orang hamil berupa rujak yang dibuat dari tujuh macam buah-buahan segar. Orang yang mau menerima dawet atau rujak dari sang ibu, harus membayarnya dengan sejumlah uang sebagai syarat.

PANTES-PANTESAN
Dalam prosesi pantes-pantesan, sang ibu akan berganti busana atau memantas-mantas busana sebanyak tujuh kali. Nantinya, undangan akan serempak menjawab tidak pantas sampai busana ke-6. Barulah busana yang ke-7 akan dipakai ibu. Ini menjadi salah satu ritual unik dalam prosesi Mitoni.

POTONG TUMPENG
Sebagai ungkapan rasa syukur bahwa selamatan tujuh bulanan telah dilaksanakan dengan lancar. dan sang suami menyuapi istrinya dari potongan pertama sebagai pentuk kasih sayang dan keluarga diharapkan selalu harmonis.

 

 

Komentar 0

Komentar