Posted on : 02 Oktober 2019 | keategori : VIOLET EYES PHOTOGRAPHY | dibaca 33 kali

Keberagaman Indonesia akan suku dan budayanya mengingatkan saya akan kekayaan nusantara kita yang begitu indah dan menakjubkan. Kurang lebih 250 suku tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Salah satu suku dan budaya terbesar adalah Jawa.

Bagi kamu yang berasal dari daerah Keratonan Yogyakarta, atau ingin melangsungkan pernikahan dengan adat Keratonan Yogyakarta sepertinya harus berbangga. Kenapa demikian? Karena ternyata pernikahan dengan adat khas Keraton Yogyakarta memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh adat dari budaya lain di Indonesia. Nah, daripada penasaran kira-kira apa saja keunikan dari prosesi pernikahan tersebut. Langsung saja kita simak 5 hal unik dari prosesi pernikahan khas Yogyakarta berikut ini.

MBETHAK

Dalam prosesi pernikahan Adat Kraton Yogyakarta, pagelaran diawali dengan upacara ‘Mbethak’ yang dilakukan oleh Ngarsa Dalem atau Sultan Yogyakarta beserta Permaisuri. Upacara yang bermakna bahwa Sultan Yogyakarta memiliki hajat mantu ini ditandai dengan prosesi menanak nasi.

MAJANG TARUP DAN TUWUHAN

Di dalam lingkungan Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, tarup adalah atap tambahan, sementara yang biasa disebut dengan gaba-gaba. Tarup atau gaba-gaba pada zaman dahulu kala terbuat dari anyaman blarak atau daun kelapa. Namun saat ini dikarenakan serba modern, tarup sudah tergantikan dengan adanya tenda. Tarup berarti ditata dimen murub, yang artinya rumah pamangku hajat ditata supaya terlihat indah, diberikan lampu penerang supaya terang benderang.

Pemasangan tarup secara tidak langsung memberikan pengumuman bahwa raja atau sultan akan memiliki hajat mantu menikahkan putra ataupun putrinya. Pemasangan tarup juga dilengkapi dengan pemasangan tuwuhan. Di dalam lingkungan kraton, pemasangan ini dilakukan oleh beberapa abdi dalem, dan tuwuhan dipasang di setiap regol yang ada di dalam kraton. Tentunya hal ini memerlukan lebih dari satu rangkaian tuwuhan.

Setelah prosesi Majang Tarup ini selesai, maka selanjutnya akan dilakukan proses pemasangan tuwuhan atau tumbuhan. Ritual ini memiliki makna agar mempelai mampu memiliki kebahagian dan kemakmuran selama menjalani pernikahan.  Pada akhirnya, keseluruhan prosesi pun akan ditutup dengan memanjatkan doa kepada sang pencipta untuk mendapatkan kelancaran dan keselamatan.

SUNGKEMAN

Setelah upacara Majang Tarub dan Tuwuhan, calon pengantin akan menjalani prosesi pingitan atau dalam adat Kraton Yogyakarta disebut sengkeran. Usai menjalani prosesi sengkeran yang biasanya berlangsung selama 40 hari, barulah calon pengantin wanita akan melakukan sungkeman kepada Ngarsa Dalem (Bapak Calon Pengantin Putri) dan Permaisuri (Ibu Calon Pengantin Putri) didampingi oleh cepeng damel putri (putri tertua dari Ngarsa Dalem).

SIRAMAN CALON PENGANTIN

Sesuai adat Kraton Yogyakarta, Kedua calon pengantin, baik wanita (putri) dan pria (kakung) harus menjalani ritual siraman. Prosesi menyucikan diri bagi kedua calon mempelai ini bertujuan agar pesta pernikahan berjalan khidmat dan selamat.

Pada malam harinya, kedua calon mempelai akan melangsungkan Midoderani yang didalamnya terdapat Upacara Tantingan. Prosesi Midoderani yang dilakukan bersamaan dengan Upacara Tantingan ini merupakan salah satu hal yang membedakan adat Kraton Yogyakarta dengan adat Jawa lainnya. Keunikan lainnya, dalam acara Midoderani ini pula calon pengantin wanita akan menandatangani berkas administrasi KUA.

PANGGIH

Upacara panggih dilaksanakan setelah kedua pengantin berganti menggunakan busana paes ageng. Upacara panggih di Kraton Yogyakarta dilaksanakan di Bangsal Kencana. Upacara panggih merupakan pertemuan pertama mempelai laki-laki dan mempelai wanita. Upacara panggih juga diringi oleh gending-gending khusus untuk pelaksanaan upacara panggih.

Komentar 0

Komentar